Beri Dia Kesempatan Lagi?
Terdengar sebuah dialog di sebuah sudut jalan.
Mas, beri aku kesempatan lagi
Tidak bisa, dik.
Kenapa mas?
Karena kamu telah membohongiku!
[… terisak menangis …]
Anda percaya kepada kesempatan kedua (second chance) tidak? Bagaimana kalau dia berbohong lagi? Bagaimana Anda yakin bahwa dia akan lebih baik (dan tidak berbohong) kali ini?
Tapi … bagaimana kalau dia benar-benar sudah tobat?

February 19th, 2008 at 3:24 am
ini belitan kerumitan.
“saya percaya bahwa dia akan bohong lagi”
percaya kepada kebohongan? gimana ya enaknya?

ah sudahlah, kasih kesempatan sikit-sikitlah bos
February 19th, 2008 at 4:03 am
kalau begitu kenapa ngga dikasih kesempatan kedua ? kalau masih bohong, berarti ngga ada kesempatan ketiga.
we’re human, we make mistake(s)..
February 19th, 2008 at 4:47 am
tapi … memberi kesempatan itu berarti harus siap disakiti lagi. siap gak ya?
February 19th, 2008 at 9:08 am
Saya dulu pernah mengalami..dan bahkan dia hampir menjadi istri saya.
Tetapi untunglah sebulan menjelang hari-H, dia membatalkan..dengan kasus yang hampir sama. Alhamdulillah..sakit sebentar, tapi hikmahnya besar.
February 19th, 2008 at 3:48 pm
Sorry to hear that, Pri.
Mudah-mudahan Anda lebih bahagia sekarang.
February 21st, 2008 at 1:03 am
Hmmm. Nice thought. Tapi sekali kepercayaan itu hilang, susah rasanya untuk mendapatkannya kembali. Well, semuanya mungkin kembali ke cinta ya? Cinta itu tidak menyimpan kesalahan…
Anyway, by the way, busway, bohong yang macam mana dulu? Sepanjang nggak menyangkut pengkhianatan (jadi inget film G30S :lol), mungkin kebohongan itu akan lebih mudah dimaafkan.
Menurut saya loh
February 21st, 2008 at 1:07 am
Tapi bukankah hubungan antara hati-ke-hati membutuhkan kejujuran? Bagaimana sebuah tali terbentuk di atas kebohongan?
February 21st, 2008 at 3:49 am
karena kebutuhan ? mungkin..
February 22nd, 2008 at 4:29 am
hmm… kebutuhan apa nih? gak jelas …