lagi-lagi budi rahardjo


Archive for the ‘pendidikan’ Category

Ketemu DagDigDug Founder

Sunday, September 21st, 2008

Lupa mau cerita.

Minggu yang lalu, di acara launching Pasar Kreasinya Telkom saya tidak sengaja ketemu dengan founder DagDigDug. Ketemunya juga tidak sengaja. Kemudian kami mencari tempat duduk untuk mojok. Sayangnya, belum sempat ngobrol banyak saya sudah dipanggil oleh panitia acara; katanya diminta untuk tampil di panggung. Padahal ternyata tidak tampil di panggungpun tidak apa-apa. Jadi tidak sempat ngobrol panjang.

Saya hanya sempat mendengar cerita singkat tentang dag-dig-dug ini saja.

Saya juga hanya sempat cerita tentang keinginan saya untuk menggunakan blog di perkuliahan dengan lebih instensif. Saat ini saya sudah memaksa mahasiswa saya untuk menggunakan blog sebagai media pelaporan tugas. Ada beberapa hal yang masih sulit dilakukan dengan infrastruktur blog yang ada saat ini.

Yah siapa tahu nanti ada yang bisa mengembangkan aplikasi berbasis blog yang saya inginkan.

(ketidak)siap(an) kuliah

Saturday, August 16th, 2008

Membaca buku teks untuk kuliah yang mulai akan saya ajarkan minggu depan timbul banyak ide. Ada ide tentang tulisan, materi kuliah, tugas, permainan, dan seterusnya. Sayangnya saya tidak punya waktu untuk mengimplementasikan itu semua.

Sederhana saja alasannya, saya baru mendapatkan materinya belum sampai satu (1) bulan. Baca buku teksnya saja belum selesai, apalagi membuat materi tambahan untuk kuliahnya.

Aaarrrggghhh…

Forgive me, my students …

(Mahalnya) Pendidikan di Indonesia

Sunday, June 29th, 2008

Minggu lalu, dalam satu hari saya menerima keluhan (lebih tepatnya curhatan) dari dua orang mengenai mahalnya pendidikan di Indonesia. Mereka mengeluh karena anaknya baru lulus dan akan meneruskan ke SMP dan yang satunya ke perguruan tinggi. Mereka bukan mengeluh karena kelulusan, karena kalau itu tentunya mereka berbahagia, tetapi mengeluh karena mahalnya biaya yang harus mereka persiapkan.

Pendidikan memang tidak murah, tetapi bagaimana membuatnya menjadi affordable bagi rakyat Indonesia ya? Bantuan dari pemerintah, subsidi, dan seterusnya nampaknya makin berkurang. Sementara itu jumlah siswa makin bertambah.

Memang jika terjadi kesulitan biaya atau anggaran, yang paling mudah dipangkas adalah pendidikan. Nggak sekolah juga nggak mati, demikian pakem yang digunakan.

Mau sedih sudah tidak sanggup lagi … Lagian sedih juga tidak banyak membantu.

Hilangnya Etika

Monday, February 25th, 2008

Kawan saya, Armein, menceritakan kegalauannya ketika menunggu elevator bersama bu Tati di kampus. Sedikit latar belakang. Bu Tati, dosen saya yang saya hormati, terkena stroke beberapa waktu (tahun?) yang lalu sehingga ada sebagian anggota badannya yang susah dikendalikan, termasuk kaki. Meskipun demikian bu Tati masih ke kampus.

Nah ketika lift terbuka, maka banyak mahasiswa yang masuk ke lift tanpa memberikan kesempatan dahulu kepada bu Tati. Hah! Dimanakah etika Anda, anak muda? Tidak tahukah Anda bahwa bu Tati lebih membutuhkan lift ini daripada Anda? Saya yakin bu Tati tidak protes, tapi kami sebagai murid dan kolega tidak bisa terima ini.

Saya tidak ingin mengeneralisir ini kepada seluruh anak muda, karena saya tahu masih banyak juga anak muda yang punya etika. (Saya baca di blog postingan tentang anak yang kelihatannya metal, tetapi begitu ada ibu-ibu naik bis, dia memberikan tempat duduknya kepada ibu itu. Jadi ada anak muda yang membanggakan!) Saya hanya khawatir jika mereka tidak kita ajari saat ini, nanti setelah lulus dari kampus mereka tidak paham apa yang namanya etika.

Mencari orang pinter tidak terlalu susah, mencari orang beretika dan berintegritas … ternyata susah.

Postingan ini adalah untuk mengingatkan kita tentang masalah etika. Mungkin kita lupa atau bahkan tidak tahu.