lagi-lagi budi rahardjo


Strategi PT Kereta Api?

Mar
05

Saya mendengar kabar bahwa tiket kereta api Bandung - Jakarta akan diturunkan, sampai 50%. Hah? Nggak salah nih?

PT Kereta Api melakukan ini untuk melawan derasnya kompetisi dari mobil travel. Menurut saya ini adalah strategi yang salah.

Pemahaman saya, orang mulai pindah ke travel dari kereta api bukan semata-mata karena harga akan tetapi karena (1) lebih cepat sampai; (2) jadwal lebih sering; (3) pilihan lebih banyak; (4) servis lebih baik. Bukan karena harga. Harga travel saat ini sebanding dengan harga tiket kereta api. Kalau tiket kereta api diturunkan, tetap saja dia tidak bisa kompetisi dengan travel yang murah seperti Baraya (yang hanya Rp 35 ribu?).

Orang memilih jasa kereta api karena kenyamanannya (bisa tidur, bisa jalan-jalan, bisa pesan makanan, bisa membaca, bisa ke toilet). Itu alasan saya kenapa saya menggunakan jasa kereta api. Bukan karena harganya kemahalan.

Usulan saya, biarlah harganya seperti dulu. Tidak usah ikut banting harga. Perbedaan uang yang diperoleh tersebut digunakan untuk menaikkan kualitas layanan (misalnya tambahkan layanan akses internet gratis - wah pasti lebih banyak yang pakai itu karena bisa kerja di kereta api). Itu menurut saya.

Gig ketiga tahun ini

Mar
02

Tahun lalu saya manggung lebih dari 25 kali. hi hi hi. Bagaimana dengan tahun ini? Kayaknya tidak sebanyak tahun lalu, tetapi siapa tahu. Hari ini saya baru menyelesaikan gig ketiga.

Foto diambil oleh Hendra Grandis aka Oemar Bakri di Aula Barat ITB, siang, 2 Maret 2008 dalam acara Dies ITB yang ke 49.

Yang di depan saya adalah Dinda, salah satu dari 3 orang penyanyi tetap kami. Suaranya top markotop. Paling enak main musik kalau penyanyinya bagus suaranya. Gitar salah chord, kepencel-pencel, pun tetap enak terdengarnya. ha ha ha.

Kami membawakan 8 lagu, plus 4 lagu lagi dari penyanyi tamu kami. Lupa berapa lama kami bermain. Lumayanlah. Sebetulnya kondisi fisik saya masih belum fit betul. Jari tangan kiri (telunjuk dan jempol) masih sakit karena korban jadi kiper futsal. Bahkan jempol sebetulnya masih sulit kalau ditekuk. Kebayang nggak nge-grip gitar tanpa jempol. Uih. Akrobat. Untungnya tadi pas manggung tidak kerasa sakitnya. Sesudahnya … he he he. Cekot-cekot. Bahkan sampai rumah baru kerasa ada urat yang tegang dari telunjuk ke siku. Maklum, dipaksa. Habis bagaimana lagi. Mosok nggak main?

Next gig? Rasanya tanggal 8 Maret ini mau ngisi di acara mahasiswa. Mungkin kali itu hanya dengan Armein saja, berdua akustikan karena yang lainnya tidak bisa. (Yang lain masih nonton Jazz di Jakarta?) Kita lihat nanti saja.

Cerita mengenai acara DIES ITB yang ke 49 ini ada juga di blog saya. Silahkan lihat ke sana saja ya? Soalnya kalau dituliskan di sini jadi dobel-dobel.

Internet Lambat

Mar
02

Internet di rumah lambat …

Arrrggghhh … Sebel

Mau bagaimana lagi? Akhirnya bisa juga mencapai blog ini. Mood untuk menulis sudah hilang. Ide juga sudah bersembunyi lagi. Akhirnya uring-uringan yang muncul. ha ha ha.

Lagu Selingkuh

Mar
01

Kemarin pas lagi makan siang, ada teman yang komentar

lagu selingkuh kok selalu enak ya?

Ha ha ha. Gedubrak.

Memang kalau diperhatikan, banyak lagu yang bercerita tentang selingkuh. Bahkan mungkin ini jadi trend? Kalau menurut Anda, lagu selingkuh yang paling bagus atau paling berkesan apa?

Memperkirakan Harga Software

Mar
01

Dalam acara Sharing Vision kemarin kami membahas salah satu topik yang cukup berat, yaitu tentang estimasi harga dari software. Topik ini bisa kita perlebar menjadi nilai (value) dari software.

Software itu tidak kasat mata. Yang terlihat adalah media dimana software itu berada, misalnya disk atau CD dimana software itu disimpan. Demikian pula ketika dia sudah berada di dalam komputer, yang terlihat adalah komputer atau RAM-nya, bukan softwarenya. Akibatnya, agak susah bagi kita untuk memberikan apresiasi terhadap software. (Yang kasusnya mirip dengan ini adalah desain grafis ya? Yang terlihat dan yang dihargai hanya kertasnya. he he he.)

Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul seputar harga software. Perlu dicatat bahwa peserta workshop kemarin latar belakangnya bervariasi. Yang paling banyak adalah dari bagian pengadaan IT (procurement). Jadi latar belakang pertanyaannya adalah seputar kesulitan yang mereka hadapi. Mari kita bahas beberapa pertanyaan yang muncul dalam acara kemarin. Ah, kita batasi dulu pertanyaannya ya.

Jika kita memberikan (melakukan outsource) sebuah pekerjaan pengembangan aplikasi baru kepada sebuah perusahaan pengembang aplikasi, berapa harga yang wajar untuk software tersebut? Bagaimana memperkirakan harganya?

Sebuah pertanyaan yang sederhana akan tetapi jawabannya tidak mudah. Dahulu estimasi harga ini dilakukan dengan feeling. (Sekarang juga masih. ha ha ha.) Sekarang sudah ada beberapa metodologi untuk melakukan estimasi. Meskipun metodologi tersebut belum ada yang sempurna, tetapi mereka dapat digunakan sebagai panduan (rough estimate).

Metodologi pertama yang muncul untuk melakukan estimasi harga software adalah dengan menghitung jumlah baris dari kode (lines of code atau disingkat menjadi LOC). Idenya adalah satu baris koder terkait dengan satu upaya (effort) tertentu. Seorang programmer memiliki kemampuan memprogram sejumlah LOC tertentu dalam satu hari (rata-rata). Pengembang aplikasi kemudian dibayar sesuai dengan jumlah baris yang dia kembangkan.

Ada beberapa masalah dengan metoda ini. Ambil contoh dua pengembang (A dan B) yang mengerjakan sebuah fungsi yang sama. Pengembang A membutuhkan 1000 baris, sementara pengembang B membutuhkan 100 baris untuk mengimplementasikan fungsi yang sama. Mana yang lebih baik? Tentu saja pengembang B yang lebih baik karena dia bisa mengimplementasikan fungsi tersebut dengan lebih efisien (dilihat dari sudut pandang jumlah barisnya lho, kita asumsikan algoritmanya sama). Akan tetapi pengembang A akan mendapat bayaran yang lebih mahal jika ukuran harganya adalah jumlah baris. Maka pengembang tidak mendapat insentif untuk membuat aplikasi seefisien mungkin dan bahkan cenderung untuk memperbanyak baris. ha ha ha.

Masalah berikutnya adalah sekarang sudah banyak tools untuk mengembangkan software yang berbasis GUI (CASE tools). Kita tinggal tarik kotak ini itu kemudian kita hubungkan satu sama lainnya. Kode (source code) kemudian dihasilkan dari tools tersebut. Apakah metoda LOC masih cocok untuk hal yang sejenis ini?

Belum lagi nanti kita berbicara framework dan bahasa pemrograman yang berbeda. Satu fungsi mungkin bisa diimplementasikan dalam 1 baris di perl tetapi membutuhkan 10 baris di visual Basic. Masih banyak variasi lainnya lagi. Untuk hal yang ini memang bisa dipecahkan dengan membuat tabel perbandingan upaya (effort), meskipun masih tidak mudah.

Di sisi lain, LOC merupakan artifak software yang paling mudah dilihat secara obyektif.

Masih banyak pertanyaan lain, seperti misanya

Kan kita ingin membuat perkiraan (owner estimate). Softwarenya kan belum jadi. Kita tidak tahu jumlah LOC-nya. Apalagi kita orang pengadaan, bukan pengembang aplikasi. Jangan-jangan nanti kita dibohongi pengembang. Bagaimana ini?

Nah lho. D Jawabannya adalah … selamat menderita! ha ha ha. Gak ding. Ada jawabannya. Lain kali ya.

Selain metoda LOC masih ada beberapa metoda lagi yang digunakan untuk melakukan estimasi upaya pengembangan aplikasi, seperti Function Point (FP), Work Breakdown Structure (WBS), COCOMO, dan seterusnya. Ah, sudah kepanjangan. Lain kali saya sambung dengan pertanyaan lainnya.


[Foto saya sedang break di belakang peserta, sementara pak Dimitri Mahayana sedang serius memberikan presentasi di depan. ngopi dulu ah … hi hi hi]

Selamat Pagi …

Feb
29

Foto diambil beberapa menit yang lalu dari depan rumah …

What a beautiful scene. I hope this is going to be a good day for all of us. It’s going to be a long day for me. Presentation in the morning, Friday prayer, lecture in the afternoon, dan music practise in the evening.

Selamat pagi!

Apa rencana Anda hari ini?

Masih Tentang BlogDetik dan DagDigDug

Feb
29

Jika Anda perhatikan, saya menuliskan entri di BlogDetik dan DagDigDug sekaligus. Saya masih mencoba mengadu kemampuan dari dua layanan blog ini. Berikut ini catatan saya saat ini.

  • Dari segi kinerja (kecepatan akses), DagDigDug lebih cepat dari BlogDetik. Ini kemungkinan karena BlogDetik lebih banyak pengguna dan yang akses.
  • Beberapa kali blog saya yang di BlogDetik tidak dapat diakses. Mungkin masih terkait dengan hal di atas. Masalah performance.
  • Komentar dari pengunjung lebih banyak di BlogDetik daripada di DagDigDug. Ini juga karena mungkin pengguna di BlogDetik lebih banyak.
  • Halaman muka DagDigDug juga lebih sederhana sehingga lebih mudah diakses (dan dibaca). Halamanan muka BlogDetik “susah” dibaca. Khas Detik? hi hi hi.

Analisis sementara. Kalau BlogDetik dapat mengatasi masalah kinerjanya, maka BlogDetik akan memiliki komunitas yang lebih banyak dan akan lebih populer.

Selamat bekerja bagi kedua tim untuk terus memberikan layanan lebih baik.

Sementara itu kepada para pembaca, saya minta maaf atas double posting di kedua blog ini. Nanti setelah stabil, saya akan pisahkan keduanya.

Fashion Me

Feb
28

Mumpung lagi membicarakan penampilan “fashion” saya yang sering gak matching (halo secarabolaitu, lanjutkan komentarnya seperti di Sedaaappp itu - ha ha ha), berikut ini saya tampilkan foto narsis lagi. hi hi hi. Silahkan dikomentari fashionnya. Oh ya, sepatu boot yang ini sudah rusak alasnya. Saya sedang mencari sepatu (boot lagi, tentunya hi hi hi).

Sebetulnya masih banyak foto-foto seperti ini. Mas Julianto (lihat deh koleksi gambarnya di situs webnya) yang memotret selama 4 jam! Ada banyak yang lebih “mengerikan” gayanya, yang kalau saya masukkan ke infotainment bisa jadi bahan tertawaan (karena lebih gombal dari sinetron yang ada saat ini).

Foto diambil mulai dari jam 9 malam sampai jam 1 pagi. Capek berat. Apalagi sebelum acara pemotretan itu, paginya memberikan training seharian. Kebayang kan?

Makanya sekarang saya respek juga sama foto model yang sungguhan, yang bisa dipotret berjam-jam. Saya aja yang amatiran capeknya bukan main. Lapar lagian … he he he.


[behind the scene]

Soal pakaian. Saya memang termasuk yang agak tidak terlalu peduli dengan pakaian. Asal bersih dan tidak kusut saja. Biasanya saya tidak memasukkan baju ke dalam celana (tucked in). Baju saya keluarkan sehingga menjadi omelan ibu saya. ha ha ha. Kalau di acara resmi, baru baju saya masukkan.

Kekisruhan Pengadaan IT

Feb
28

Seharian saya memberikan workshop tentang pengadaan IT (information technology, teknologi informasi). Banyak kasus pengadaan IT yang berakhir kepad tuduhan korupsi. Padahal hal tersebut belum tentu korupsi (bukan berarti tidak ada lho, tetapi banyak yang sebetulnya hanya masalah perbedaan cara padang).

Problemnya, IT itu “binatang” yang berbeda dengan meja atau kursi. he he he. Kalau hari ini beli meja dari toko A dan kemudian besok beli kursi dari toko B tidak ada masalah yang signifikan. Kalau hari ini mengembangkan software dengan vendor A, tetapi untuk maintenance dengan vendor B ceritanya bisa lain. Software bisa jadi tidak jalan.

Belum lagi sistem IT yang berubah dengan cepat. Spesifikasi hari ini akan terlihat kadaluwarsa 6 bulan kedepan. Belum lagi harganya juga berubah dengan cepat.

Ah. Pokoknya puyeng. Nah, itulah yang saya jelaskan tadi pagi. Sekarang … cape! Besok masih ada 1/2 hari lagi.

Berburu Kaset Jadul

Feb
26

Sambil menunggu travel, iseng saya mampir ke toko kaset dan CD bekas di jalan Dipati Ukur 68. Sebenarnya ini dua toko yang masih berhubungan. Satu toko khusus untuk kaset, satunya untuk CD.

Koleksinya … wah, luar biasa karena koleksi mereka adalah kaset atau CD yang beda dengan toko kaset biasa. Sebagai contoh, tadi saya lihat CD dari Blue Oyster Cult, Manfred Mann, Sweet, atau band-band tahun 60 dan 70-an. Yang seperti ini jarang di toko biasa. Harganya pun tidak semahal di toko biasa karena toko ini adalah toko second.

Setelah puas di toko CDnya saya pindah ke toko kasetnya. Di sini banyak kaset rekaman Yess yang sempat ngetop di tahun 70-an itu. Jenis musik classic rock banyak di sini. Selain itu, ada bagian yang menarik bagi saya yaitu bagian kaset jadul.

Setelah lihat-lihat, akhirnya saya putuskan untuk membeli album Symphony yang berjudul Trapesium (diterbitkan tahun 1982?). Rasanya dulu saya pernah punya, tetapi sekarang sudah hilang. Saya beli kaset ini dengan harga Rp 25.000,-. Yah lumayanlah.

Tadinya saya mencari kaset mas Yockie S. Prayogo, Musik Saya Adalah Saya, tetapi tidak ada. Ya sudah. Padahal mau mengganggu mas Yockie untuk minta tanda tangannya. he he he. Dikasih gak ya? Kalau nggak, awas!

Lumayan dapat kaset jadul. Lain kali, kalau waktunya lebih senggang, saya akan mampir ke sana lagi ah.

Kambing dan Embeeekkk

Feb
26

Seperti biasa, kalau ketemu di PAU, kami bersenda gurau. Kali ini pak Armein mengajukan tebakan (yang katanya dari anaknya):

Apa bedanya kambing dengan embek?

Untuk melihat jawabannya Anda harus menggunakan rot13 (silahkan pakai rot13.com - copy-paste-kan jawaban di bawah ke sana, kemudian klik cypher/decypher). Jawabannya adalah:

Xnynh xnzovat, ovfn cnattvy xnjnaaln: rzorrrxxx.
Xnynh rzorx, tnx ovfn cnattvy xnjnaaln. Zbfbx ovfn ovynat: zovat…

he he he …

Hutan Lebak Siliwangi Mau Dijadikan Mall (PvJ part 2)?

Feb
26

Saya baru dengar selentingan kabar bahwa hutan Lebak Siliwangi (Bandung) mau dijadikan mall, Parijs van Java versi 2.0 katanya. Gedubrak! Ada yang bisa memberikan konfirmasi formal tentang hal ini?

Ini bukan hal untuk main-main.

Saya sangat tidak setuju!

Mari kita lakukan sesuatu untuk mencegah agar ini tidak sampai terjadi. This madness, of turning everything into a mall, has got to stop! Kalau perlu kita turun ke jalan?

Eh, apakah kita bisa menggunakan media internet (termasuk penggunaan blog) untuk mencegah rencana ini? Mungkin ada yang bisa bikin banner, button, dan sejenisnya. Kemudian mungkin ada yang buat situs dengan informasi yang lengkap. Saat ini kan kita masih berbasis kepada “katanya”. Ayo dong, yang punya informasi, kita-kita dibagi.

Harus kita selamatkan kota Bandung yang tercinta.

Hilangnya Etika

Feb
25

Kawan saya, Armein, menceritakan kegalauannya ketika menunggu elevator bersama bu Tati di kampus. Sedikit latar belakang. Bu Tati, dosen saya yang saya hormati, terkena stroke beberapa waktu (tahun?) yang lalu sehingga ada sebagian anggota badannya yang susah dikendalikan, termasuk kaki. Meskipun demikian bu Tati masih ke kampus.

Nah ketika lift terbuka, maka banyak mahasiswa yang masuk ke lift tanpa memberikan kesempatan dahulu kepada bu Tati. Hah! Dimanakah etika Anda, anak muda? Tidak tahukah Anda bahwa bu Tati lebih membutuhkan lift ini daripada Anda? Saya yakin bu Tati tidak protes, tapi kami sebagai murid dan kolega tidak bisa terima ini.

Saya tidak ingin mengeneralisir ini kepada seluruh anak muda, karena saya tahu masih banyak juga anak muda yang punya etika. (Saya baca di blog postingan tentang anak yang kelihatannya metal, tetapi begitu ada ibu-ibu naik bis, dia memberikan tempat duduknya kepada ibu itu. Jadi ada anak muda yang membanggakan!) Saya hanya khawatir jika mereka tidak kita ajari saat ini, nanti setelah lulus dari kampus mereka tidak paham apa yang namanya etika.

Mencari orang pinter tidak terlalu susah, mencari orang beretika dan berintegritas … ternyata susah.

Postingan ini adalah untuk mengingatkan kita tentang masalah etika. Mungkin kita lupa atau bahkan tidak tahu.

Memuji Atau Memuji

Feb
25

Terbaca di sebuah tempat …

Wah, blog Anda keren euy. Gak ada pembacanya.

ha ha ha. Ini memuji atau “memuji” ya?

Dagelan Pagi Ini

Feb
25

ha ha ha … saya tertawa sendirian (sungguh).

katanya sedang ada petisi untuk mengeluarkan blog saya dari agregator planet terasi yang dikelola ronny. ha ha ha. dikira saya peduli gitu? mau didaftarkan kek mau gak terserah yang punya agregator.

kemarin priyadi menawarkan untuk memperbaharui agregator PlanetGBT yang dia kelola. saya daftarkan dua blog lagi saja. yang lainnya biar buat eksperimen dulu.

yang masih belum bisa saya mengerti, kok ada orang yang sedemikian desperate-nya ya? tapi itu memang hak mereka sih. sah-sah saja. monggo. it’s your life.

lumayan … ada dagelan pagi ini yang cuacanya kurang cerah. mana saya di sini digeber dengan lagu-lagu dari album johnny hates jazz yang nuansanya kelabu juga. lebih spesifik lagi saya ingin meneriakkan judul salah satu lagu mereka

I don’t want to be your hero!